MEDIA & PUBLIKASI

  • Melihat apa yang tidak dilihat orang lain...


NOJORONO GIATKAN PROGRAM ADIWIYATA TINGKAT NASIONAL SMPN 02 REMBANG





08 February 2021

“Edukasi Pengelolaan Sampah di Sekolah Adiwiyata”

Dalam rangka target pencapaian Sekolah AdiwiyataNasional 2021, PT Nojorono Tobacco International bersinergi dengan SMPN 02Rembang untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah. Program “Pengelolaan Sampahdan Pembuatan Bioaktivator” merupakan langkah baru pembiasaan perilakupemilahan dan kelola sampah dengan Reduce, Reuse, Recycle (3R). Kegiatan inibersifat workshop dihadiri oleh 40siswa dan siswi OSIS.

Tahun 2010 silam, Pemerintah Indonesiamencanangkan target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26% di tahun 2020,dan sampai dengan 41% apabila terdapat dukungan internasional. Presiden JokoWidodo, telah menentukan 9 (sembilan) aksi prioritas pembangunan nasional yangdituangkan melalui Nawa Cita. Misi tersebut sejalan dengan komitmen nasionalmenuju arah pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim, dengan adaptasidan mitigasi perubahan iklim sebagai satu prioritas yang terintegrasi danlintas sektoral dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

Indonesiatelah mengeluarkan rangkaian perangkat hukum dan kebijakan, termasuk RencanaAksi Nasional Penurunan Emisi GRK sebagaimana dituangkan dalam PERPRES No.61/2011 dan inventarisasi GRK melalui PERPRES No. 71/2011. Di sektorpengelolaan limbah, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengembangkan strategikomprehensif untuk meningkatkan kualitas kebijakan dan kapasitas institusi ditingkat lokal, meningkatkan kapasitas pengelolaan limbah cair perkotaan,mengurangi limbah yang dibuang ke landfill (penimbunan sampah pada suatu lubangtanah) melalui pendekatan “Reduce, Reuse,Recycle”, dan pemanfaatan sampah dan limbah untuk energi.  

(Sumber: http://ditjenppi.menlhk.go.id/reddplus/images/resources/ndc/terjemahan_NDC.pdf)

Program Kampung Iklim (ProKlim) adalahprogram berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup danKehutanan dalam rangka meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangkukepentingan lain untuk melakukan penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampakperubahan iklim dan penurunan emisi GRK serta memberikan pengakuan terhadapupaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilakukan dapatmeningkatkan kesejahteraan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah. (Sumber:http://ditjenppi.menlhk.go.id/kcpi/index.php/aksi/proklim)

Meneruskan Misi Nawa Cita, GubernurJawa Tengah, H. Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P. pada Jambore Daerah dan ProKlim 26Juli 2019 lalu, mengajak partisipasi perusahaan swasta untuk melakukan mitigasidesa dalam upaya pembentukan hutan mini melalui pembibitan, pengelolaan sampah,dan pemanfaatan energi.

Program PemkabKudus untuk mengurangi konsumsi sampah plastic. Rumah makan ataupun pasarmodern semakin mengurangi sampah plastik. Harapannya sampah bisa berkurang 30persen, dan penanganan menjadi 70 persen 

Didik Tri Prasetyo, Sekertaris DPKPLH Kudus

 

PT Nojorono, menyambut baik misitersebut melalui dukungan kegiatan mitigasi yang berfokus pada upaya penurunanemisi Gas Rumah Kaca (GRK) sektor limbah. Limbah sendiri menduduki urutanketiga kontributor emisi GRK dunia setelah penggunaan lahan dan transportasi.Dalam upaya penurunan emisi GRK khususnya di Kabupaten Kudus, PT Nojorono merangkulaktivis lingkungan nasional, Heru Santoso. PT Nojorono memberikan pelatihanedukasi pengelolaan sampah untuk mengelola sampah organik menjadi pupuk cair,serta pembuatan bioaktivator.

Sampah daun,sayur – sayuran yang ada di rumah kita, bisa dibuat kompos yang menghasilkanproduk sampah cair. Hasilnya dapat membantu mengatasi sampah yang lebih besar.Semua bisa dilakukan di rumah asal ada kemauan untuk mencapai Kudus bebassampah di tahun 2030 

Heru Santoso, S. E., M. M , aktivis lingkungan nasional.

 

Pelatihan dilaksanakan di PusatBelajar Guru (PBG) Kudus awal Oktober 2019 lalu, diikuti oleh 32 (tiga puluhdua)  pengelola bank sampah, 11 (sebelas)Pemerintah Desa, dan 6 (enam) komunitas ProKlim.  Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan di empatdesa yang tercatat oleh Dinas Perumahaan, Kawasan Pemukiman dan LingkunganHidup (DPKPLH) sedang merintis ProKlim, yakni Desa Colo, Loram Wetan, Kelurahan Purworsari, dan Ngembal Wetan.

Pemberdayaan masyarakat berkelanjutanpasca pelatihan menuai reaksi positif dari Desa Loram Wetan dan Desa Purwosari.Di bulan Maret mendatang, rencananya Desa Loram Wetan akan memamerkan inovasinyata dalam pengolahan sampah menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Kegiatan yangakan didukung sepenuhnya oleh PT Nojorono ini juga akan dihadiri langsung olehtim penilai Kasi Lingkungan DPKPLH Kudus serta Pelaksana Tugas Bupati Kudus, H.M.Hartopo, S.T., M.M., M.H. yang akan sekaligus meresmikan desa ProKlim tersebut.Bentuk keberhasilan lain dari pelatihan juga ditunjukkan oleh Desa Purwosari.Pemberdayaan desa secara aktif dijalankan dibawah naungan Bapak Ali, yangmerupakan pengelola pesantren dan panti asuhan Al Ikhsan. Saat ini, pesantrenAl-Ikhsan telah menerapkan pembuatan kompos cair dan membandingkanpenggunaannya pada tanaman cabai. Menunjang keberlanjutan pemberdayaan desa ini,pada April mendatang PT Nojorono membantu dalam penyediaan alat komposter sertapembibitan.

Program pembinaan desa Proklim yangdilakukan oleh PT Nojorono saat ini masih berfokus pada 4 (empat) desa rintisanProKlim. Desa rintisan PROKLIM merupakan desa yang telah melakukan verifikasi yangdilakukan dalam Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim(SRN-PPI). Sistem penilaian dan verifikasi berdasarkan program yangdikategorikan dalam Mitigasi dan Adaptasi yang terbagi dalam lima parameter; pengendaliankekeringan, banjir, dan longsor, peningkatan ketahanan pangan, pengendalianpenyakit terkait iklim, dan mitigasi terkait pengelolaan limbah sertakonservasi energi.  Kelima parameter iniharus mampu dipertanggungjawabkan dalam verifikasi lapangan kedepannya. 

PT Nojorono akan meningkatkan programpembinaan ini yang berfokus pada VocationalEducation di 10 (sepuluh) desa rintisan ProKlim dan 35 (tiga puluh lima)desa di Kudus. Seiring dengan pembinaan yang dilakukan, PT Nojorono membukapeluang bagi aktivitis lingkungan hidup untuk turut menyumbangkan kontribusinyadalam program berkelanjutan ini di 20 (dua puluh) sekolah di Jawa Tengah.Selain pembinaan desa, pemilahan dan pengelolaan sampah juga sudah mulaiditerapkan dalam beberapa perusahaan yaitu PT Aroma Tobacco International danPT. Karunia Daun Kencana

Inisiasi PTNojorono bersama DPKPLH sebagai langkah awal kita semua dalam menanamkan sebuahharapan besar, akan kebersihan dan keasrian kota Kudus dari penumpukan sampah

Stefanus JJ Batihalim - Presiden Direktur PT Nojorono

 

PT Nojorono Tobacco International

PT Nojorono Tobacco International ataudikenal PT. NTI adalah perusahaan rokok terbesar ketiga di Indonesia (setelahHM Sampoerna dan Bentoel Group). Nojorono didirikan pada tanggal 11 Februari1932 dan berpusat di Kudus, Jawa Tengah. Perusahaan ini terkenal sebagaipemilik merek dagang Djinggo dan Clas Mild.

Perusahaan inilah yang memproduksimerek terkenal Minak Djinggo, nama tokoh dalam perwayangan Jawa, dan merekterkenal lainnya, Clas Mild. Sedangkan nama merek lainnya mungkin belum pernahkita dengar sebelumnya: Astrokoro, 234 dan Kaki Tiga. Hal ini mungkindisebabkan karena ketiganya diproduksi oleh Trio, nama perusahaan awal sebelumakhirnya berubah menjadi Nojorono.

Berbeda dengan perusahaan lain yangumumnya dikuasai oleh satu keluarga secara turun-temurun, Nojorono dikendalikansecara kolektif oleh lima keluarga sekaligus. Awalnya adalah Tjoa Kang Hay,yang pernah bekerja untuk Nitisemito, mengajak saudaranya, Tan Tjiep Siang danTan Kong Ping untuk mendirikan Trio. Setelah itu Kang Hay mencari pasangan barudi Kudus, yakni Ko Djie Siong dan Tan Djing Dhay, untuk mendirikan Nojorono.

Didirikan pada 11 Februari 1932,inovasi terbesar Nojorono selama ini adalah rokok tahan air di mana ia jugamemiliki hak paten atas temuannya ini. Produk ini dimungkinkan berkatpenggunaan parafin dalam proses produksi rokok. Karena keunggulanwaterproof-nya ini, rokok produksi Nojorono sangatlah populer di kalanganpelaut dan nelayan, dan juga merek yang paling terkenal, Clas Mild. Meskipun dikota-kota besar Indonesia, Minak Djinggo sudah tidak banyak beredar, tapi di pesisirlaut seperi daerah pantura masih sangat diminati oleh Para Nelayan karena citarasa yang khas, tahan lama, dan harga murah.


For more info & inquiries:

Public & Media Relations

PT. Nojorono

« Back